Pos oleh :

ferry.dwi.c

Literasi Lingkungan dalam Bingkai Geowisata Berkelanjutan

Seiring dengan berakhirnya era Millenium Development Goals (MDGs), sekitar 154 kepala negara dan pemerintahan yang tergabung dalam Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) secara resmi mengadopsi agenda 2030 untuk pembangunan berkelanjutan pada siding ke-70 Majelis Umum PBB di New York. Agenda yang disepakati ini kemudian lebih dikenal sebagai agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Agenda ini terdiri dari 17 tujuan.

Pariwisata sebagai salah satu sektor ekonomi yang dinamis tentunya memiliki peranan terhadap terlaksananya pembangunan berkelanjutan. Berbagai pendekatan seperti ekowisata dan geowisata diklaim akan memberikan peningkatan ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, tidak salah apabila dalam agenda SDGs, sektor pariwisata setidaknya menempati tiga tujuan dari total 17 tujuan yang hendak dicapai. read more

Bencana Banjir Bandang DAS Kokok Sambelia: Kajian Pendahuluan

Oleh: Tiara Handayani, Rizki Ghiffari, Surono, Aldhila Gusta (MPPDAS)

Kuliah Kerja Lapangan MPPDAS tahun 2017 dilakukan di Lombok Timur dengan lima fokus kajian utama. Salah satunya adalah kajian bencana banjir bandang DAS Kokok Sambelia. DAS Kokok Sambelia mengalami banjir bandang pada 9 dan 11 Februari 2017 akibat hujan lebat dan disertai angin kencang. Jaringan sungai yang berada di DAS Kokok Sambelia tidak mampu menampung tingginya debit sungai sehingga mengakibatkan bencana banjir bandang pada daerah hilir DAS dengan material sungai yang sangat banyak, didominasi oleh batu besar. Bencana banjir bandang di DAS Kokok Sambelia merupakan kejadian pertama sepanjang sejarah. Oleh sebab itu, analisis dampak banjir bandang baik fisik maupun sosial menjadi menarik untuk dikaji sebagai salah satu upaya pengelolaan DAS pasca bencana. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) menganalisis dampak kejadian banjir bandang Februari 2017 di DAS Kokok Sambelia, 2) menganalisis kejadian bahaya banjir bandang DAS Kokok Sambelia pada Februari 2017, 3) menganalisis perubahan morfologi sungai pasca kejadian banjir bandang Februari 2017 di DAS Kokok Sambelia, dan 4) menyusun alternatif pengelolaan DAS Kokok Sambelia pasca kejadian banjir bandang Februari 2017 pasca kejadian banjir bandang Februari 2017. read more

Karakteristik dan Dinamika Wilayah Kepesisiran Sebagian Kabupaten Lombok Timur

Oleh: Zulhan E, Komariah E, Gaby N.K, Andy W (MPPDAS)

Kuliah Kerja Lapangan MPPDAS 2017 di Lombok Timur fokus pada pesisir dan DAS termasuk potensi, dinamika, bahaya, serta kondisi sosial ekonomi dan pengelolaannya. Salah satu kajian yang dilakukan adalah kajian mengenai karakteristik dan dinamika wilayah kepesisiran. Pesisir merupakan wilayah yang memiliki arti penting bagi kehidupan manusia di muka bumi. Supriyanto (2003) mengatakan bahwa konfigurasi pantai di wilayah kepesisiran dapat disebabkan oleh kegiatan atau proses alami dan non alami (kegiatan manusia) baik yang berasal dari darat maupun dari laut. Aktivitas yang berlangsung di lautan dan daratan dalam jangka waktu tertentu menghasilkan berbagai tipologi wilayah kepesisiran disepanjang garis panta tersebut. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan proses genetik dan material penyusunnya. Bentuk pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan dan sumberdaya alam akan berbeda-beda disesuaikan dengan tipologi wilayah kepesisiran yang berkembang. Pemanfaatan dan pengelolaan yang tidak sesuai dengan jenis wilayah kepesisiran yang berkembang dapat menghasilkan kerugian hingga kerusakan di wilayah kepesisiran itu sendiri. read more

DINAMIKA GARIS PANTAI MUARA SUNGAI PEMALI DAN SEKITAR

Wilayah pantai utara Pulau Jawa, atau biasa dikenal dengan nama Pantura (Pantai Utara), merupakan kawasan di bagian utara pulau jawa, yang berhadapan langsung dengan Laut Jawa. Salah satu penciri kawasan pesisir, menurut Pallewata (2010), kawasan tersebut sangat dinamis karena merupakan pertemuan antara komponen hidrosfer, litosfer, dan biosfer. Proses yang terjadi di kawasan tersebut sangat kompleks, baik secara alami maupun campur tangan manusia. Kabupaten Brebes termasuk dalam salah satu kabupaten paling barat di Jawa Tengah yang berlokasi di kawasan pesisir utara. Kabupaten Brebes dilalui oleh sungai Pemali, yang mengalir dari selatan (hulu Tuk Sirah) menuju ke utara, yaitu laut Jawa. Karakteristik Laut Jawa yang memiliki gelombang atau arus lautnya cenderung tidak terlalu besar disertai dengan bermuaranya material sedimen yang terbawa oleh aliran sungai Pemali menyebabkan terbentuknya delta. Delta terjadi akibat proses fluvial dari sungai dan proses marine dari laut (Marfai, 2016). read more

EKOWISATA EKOSISTEM MANGROVE DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN BREBES

Kabupaten Brebes merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah dan mempunyai wilayah pesisir. Masyarakat pesisir sering mengalami kerugian, karena adanya peristiwa erosi pantai (Coastal Erosion) yang mengakibatkan rusaknya kolam-kolam tambak. Upaya yang dilakukan masyarakat pesisir beserta pemerintah daerah Kabupaten Brebes untuk mengurangi meluasnya area yang tererosi, adalah dengan melakukan kegiatan penghijauan kembali wilayah pesisir berupa penanaman vegetasi mangrove. Selama kurun waktu lebih dari 15 tahun masyarakat pesisir dan pemerintah melakukan penghijauan, terutama jenis Rhizophora (bakau) dan Avicennia (api-api). Saat ini manfaat dari kegiatan tersebut telah dirasakan oleh masyarakat. Vegetasi mangrove hasil kegiatan penanaman tersebut telah mampu menghijaukan dan mempertahankan wilayah pesisir Kabupaten Brebes dari ancaman erosi pantai. read more

Mangrove Kabupaten Brebes dan Dampaknya Terhadap Ekologi Lingkungan

Memiliki karakteristik pedesaan dengan area tambak ikan, tambak garam serta lahan pertanian yang luas, pesisir Brebes cukup berbeda dengan pesisir Pantura lainnya. Kultur gotong royong setiap masyarakat masih terasa kental. Perumahan dan kawasan industri tidak memadati pesisir meskipun letaknya strategis pada jalur darat utama Pulau Jawa.

Akhir Juli 2017, peneliti dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada dipimpin oleh Prof. Muh Aris Marfai, berkunjung ke pesisir Brebes dan bertemu dengan beberapa penggiat restorasi mangrove serta jajaran pemerintah untuk mengetahui perkembangan rehabilitasi kawasan pesisir Brebes dan pengelolaannya. Kami dipandu oleh Mohamad Ali Mashuri,S.TP., M.Sc, M.Si., salah seorang pegawai pemerintah Kabupaten Brebes yang pernah bertugas di Dinas Perikanan dan Kelautan. Tim peneliti mengunjungi tiga titik rehabilitasi mangrove, yaitu Desa Sawojajar, Kaliwlingi, dan Randusanga Kulon. read more

Sebelas tahun semburan Lumpur Sidoarjo – Lumpur apa itu?

Tepat 11 tahun yang lalu, tanggal 29 Mei 2006, masyarakat Sidoarjo dikejutkan dengan semburan lumpur di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo (Gambar 1). Lumpur tersebut terus mengalir sampai saat ini dengan debit rata-rata antara 104 sampai 105 m3/hari  (Satyana & Asnidar, 2008) dan telah menggenangi area seluas 650 ha (Jejeli, 2016). Sebanyak 19 desa pada Kecamatan Porong, Tanggulangin, dan Jabon tergenang lumpur, menyebabkan 11241 bangunan terkubur dan 39700 jiwa direlokasi, dengan kerugian ekonomi lebih dari 2,7 milyar dolar (BPLS, Mazzini et al., 2007, McMicheael, 2009). read more

Tantangan Ilmu Geomorfologi di Masa Mendatang

Kenneth J. Gregory (University of London dan University of Southampton) dan Andrew Goudie (School of Geography, Oxford University dan President of the International Association of Geomorphology) pernah menulis paper dengan judul “Introduction to the Discipline of Geomorphology” yang menjadi chapter pembuka pada buku “Geomorphology (The SAGE Handbook) yang mengungkapkan setidaknya terdapat Sembilan (9) tantangan Ilmu Geomorfologi di masa kini dan mendatang. Berikut ringkasannya:
1. Bagaimana masa lalu planet Bumi dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan masa sekarang dan masa depan planet Bumi?
Dalam hal ini beliau berdua menyatakan bahwa diperlukan tools dan teknik baru untuk dapat menganalisis catatan alamiah tentang evolusi Bumi dan lingkungan di atasnya yang tersimpan pada stalagmit, lingkaran tahun pada pohon, sedimen, startigrafi, struktur pasif dan aktif batuan, fosil dll) untuk membantu menjelaskan proses yang terjadi sekarang dan memprediksi perubahan permukaan Bumi di masa mendatang.
2. Bagaimana pola geospasial pada permukaan Bumi terjadi dan bagaimanakah kita dapat memahami dengan baik prosesnya?
Bagian ini beliau berdua menjelaskan bahwa teknologi observasional dan geospasial yang baru dan powerful akan memudahkan menganalisis pola geospasial yang terbentuk.
3. Bagaimanakah bentanglahan merekam iklim dan tektonisme?
4. Bagaimanakah reaksi biogeokimia pada bentanglahan terjadi dan bentuk bentanglahan apa saja yang kemudian terbentuk (respon bentanglahan)?
Pada bagian ini beliau berdua menjelaskan bahwa erosi kimia dan pelapukan pada bedrock telah menghasilkan tanah yang sangat penting bagi kehidupan serta telah berperan pula dalam evolusi bentanglahan dan siklus nutrien.
5. Bagaimanakah hukum transport material menyebabkan evolusi permukaan Bumi?
Diperlukan hukum matematis yang dapat menjelaskan secara detail dan terukur serta mendefinisikan dasar dari tingkat suatu proses seperti longsorlahan, erosi glasial, erosi kimia, sehingga diketahui dengan baik mekanisme dan tingkat evolusi bentanglahan.
6. Bagaimanakah ekosistem dan bentanglahan dapat saling berinteraksi, bersinergi dan saling mempengaruhi?
Sangat penting memahami keterkaitan ekosistem kehidupan, proses pada permukaan Bumi dan Bentanglahan.
7. Apakah yang mengontrol kerentanan dan daya tahan/ resistensi bentanglahan untuk berubah?
Perubahan bentanglahan sangat dipengaruhi oleh iklim, tektonisme, magmatisme dan volkanisme, dan aktivitas manusia. Maka aktivitas mana yang dominan berperan, mana yang akan menyebabkan bencana dan sebagainya harus dapat dipahami. Selain itu perlu pula pemahaman tentang magnitude dan durasi yang masih dapat ditahan oleh bentanglahan sampai tidak mengalami perubahan yang membahayakan.
8. Bagaimanakah bentanglahan akan berubah di era antroposen?
Diperlukan pemahaman, kemampuan prediksi dan adaptasi terhadap perubahan bentanglahan yang meningkat seiring dengan meningkatnya tekanan akibat aktivitas manusia. Diperlukan juga banyak kajian dampak aktivitas manusia terhadap bentanglahan.
9. Bagaimanakah ilmu Kebumian (termasuk Geomorfologi) dapat berkontribusi pada pembangunan keberlanjutan? read more

Shallow Groundwater (Airtanah Dangkal)

Pendefinisian kata airtanah dangkal selalu menjadi perdebatan. Mengapa definisinya begitu penting? Hal ini karena pada banyak aturan ekstraksi airtanah seringkali pengambilan oleh masyarakat dan industri dibatasi oleh istilah airtanah dangkal dan airtanah dalam. Shallow groundwater seringkali digunakan untuk menggantikan istilah airtanah bebas (lebih tepat airtanah tidak tertekan) di Indonesia, meskipun sebenarnya sangat tidak tepat. Sudut pandang dalam pendefinisian airtanah bebas adalah bahwa airtanah tidak dibatasi oleh lapisan impermeable (kedap air), sedangkan shallow groundwater adalah pengertian yang didasarkan pada kedalaman muka airtanah, tidak peduli ada atau tidaknya lapisan impermeable (kedap air). read more