Mangrove Kabupaten Brebes dan Dampaknya Terhadap Ekologi Lingkungan

Memiliki karakteristik pedesaan dengan area tambak ikan, tambak garam serta lahan pertanian yang luas, pesisir Brebes cukup berbeda dengan pesisir Pantura lainnya. Kultur gotong royong setiap masyarakat masih terasa kental. Perumahan dan kawasan industri tidak memadati pesisir meskipun letaknya strategis pada jalur darat utama Pulau Jawa.

Akhir Juli 2017, peneliti dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada dipimpin oleh Prof. Muh Aris Marfai, berkunjung ke pesisir Brebes dan bertemu dengan beberapa penggiat restorasi mangrove serta jajaran pemerintah untuk mengetahui perkembangan rehabilitasi kawasan pesisir Brebes dan pengelolaannya. Kami dipandu oleh Mohamad Ali Mashuri,S.TP., M.Sc, M.Si., salah seorang pegawai pemerintah Kabupaten Brebes yang pernah bertugas di Dinas Perikanan dan Kelautan. Tim peneliti mengunjungi tiga titik rehabilitasi mangrove, yaitu Desa Sawojajar, Kaliwlingi, dan Randusanga Kulon.

Kabupaten Brebes memiliki 56,68 Km garis pantai (Faperi, et al. 2015) dengan Delta Pemali di sisi Timur dan Delta Cisanggarung di sisi Barat. Kedua delta tersebut berbentuk cuspate atau V membulat (Gambar 1) dengan beberapa cabang sungai (alami dan buatan/sudetan) yang menyalurkan material lumpur hulu dan tengah DAS ke wilayah kepesisiran Brebes. Proses fluvial dan marin membentuk daratan baru yang oleh masyarakat pesisir disebut sebagai tanah timbul. Tanah timbul dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lahan tambak sejak tahun 1980an. Kala itu, udang windu menjadi primadona perikanan Indonesia. Nilai rupiah udang windu yang tinggi menggoda masyarakat untuk membudidayakanya secara masif. Masyarakat bersama dengan pemerintah lokal (Desa) mengelola tanah timbul untuk dibuat kolam-kolam tambak memanjang dengan menyisakan tanah yang lebih tinggi (dan tipis) pada sisi luarnya saja (pematang). Perubahan morfologi tersebut menyebabkan tanah timbul memiliki ketahanan yang lebih rendah terhadap arus dan gelombang laut. Akibatnya, beberapa bagian pantai memiliki laju erosi yang lebih tinggi dibanding laju akresinya.

Gambar 1. Pesisir Kabupaten Brebes dibatasi oleh Delta Pemali dan Cisanggarung yang berbentuk cuspate

Sekitar dua dekade berikutnya, perikanan tambak yang menjadi sumber penghasilan masyarakat pesisir Brebes mengalami fase paceklik akibat kerusakan tambak baik oleh pengikisan pematangnya maupun penggenangan kolam oleh air laut yang berlebihan. Lahan tambak rusak (bahkan hilang), ikan dan udang pun hanyut terbawa arus. Petani tambak jelas merugi. Tidak hanya menyebabkan kondisi perekonomian menurun drastis, kondisi tersebut lebih lanjut mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat pesisir. Sekitar tahun 2000an, banyak penduduk yang melakukan migrasi ke luar kota bahkan negara untuk memperoleh mata pencaharian lain. Berbekal ijazah SMP dan SMA, masyarakat pesisir Brebes kala itu pergi untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau warung makan, anak buah kapal, dan lainnya. Masyarakat yang memilih bertahan, bekerja serabutan bahkan tak jarang yang menganggur.

Kondisi tersebut menjadi titik balik persepsi masyarakat pesisir Brebes, khususnya di Desa Sawojajar, Kaliwlingi, dan Randusanga Kulon. Masyarakat mulai sadar bahwa perubahan iklim, perubahan pola arus dan gelombang, kenaikan muka air laut, perubahan pola hidup masyarakat terjadi di tempat tinggal mereka.  Masyarakat dituntut untuk berfikir, apa yang harus mereka lakukan untuk menyelamatkan pesisir agar kekayaan sumberdaya alam dapat menghidupi anak cucu kelak. Kelompok-kelompok masyarakat, baik nelayan, petani tambak, maupun petani sawah semakin aktif melakukan diskusi dan koordinasi. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman masyarakat sendiri, penanaman mangrove diyakini sebagai sabuk hijau yang melindungi pesisir agar laju erosi pantai dan banjir rob air laut dapat ditekan.

Hampir berbarengan, ketiga desa tersebut memulai upaya penanaman mangrove sejak tahun 2000an. Sedikit berbeda dengan wilayah lain, masyarakat pesisir Brebes tidak menggunakan bibit mangrove pada polibag untuk ditanam, namun menggunakan propagule alami sebagai bibit. “Lebih ekonomis”, begitu kami menirukan Muskorim, S.Pi., M.M., salah satu staf di Dinas Keluatan Perikanan Brebes. Dengan dana yang sama, mangrove yang dapat ditanam jauh lebih banyak dibanding penanaman dengan bibit pada polibag sehingga area terlindungi lebih luas.  Beliau juga menceritakan bagaimana masyarakat pesisir Brebes mengajari pemerintah tentang kegigihan dan “guyup rukun” agar restorasi mangrove berhasil. Beberapa tokoh penggiat mangrove yang kami temui adalah Bapak Nasir (Sawojajar), Bapak Mashadi (Kaliwlingi), serta Bapak Warsono (Randusanga). Ketiganya merupakan tokoh masyarakat yang aktif mendampingi dan memotori masyarakat serta menjembatani masyarakat dengan pihak luar (pemerintah maupun LSM) dalam restorasi dan rehabilitasi mangrove dengan mengedepankan gotong royong dan pemberdayaan masyarakat.

Restorasi merupakan tindakan mengembalikan lahan terdegradasi ke kondisi semula (Whitten, Soeriaatmadja dan Afiff 2000). Masyarakat di Brebes sendiri telah melakukan afforestasi,  yaitu penanaman mangrove pada area yang semula bukan hutan mangrove (Lewis dan Streever 2000), salah satunya tanah timbul di pesisir Brebes. Luasan mangrove bertambah menjadi lebih dari 200 Ha dalam kurun waktu 30 tahun antara 1983-2013 (Faperi, et al. 2015). Jenis yang umum ditanam adalah Rhizophora sp karena relatif tahan terhadap fluktuasi lingkungan estuari. Selain dengan upaya penanaman lagi, keberhasilan penanaman Rhizophora sp menginduksi tumbuhnya Avicenia sp di zona depan dan Sonneratia sp  di muara sungai Pemali secara alami. Tingkat keberhasilan afforestasi mangrove cukup baik dengan pengelolaan (penyulaman tanaman baru) rutin paling tidak selama 4 bulan setelah penanaman. Meskipun demikian, ekosistem buatan ini memiliki tingkat keberagaman yang masih rendah, dengan dominasi jenis Rhizophora sp.

Selain fungsi ekologinya sebagai penahan arus dan gelombang serta pengendapkan sedimen, ekosistem mangrove Brebes memiliki fungsi biologi dan sosial ekonomi. Mangrove merupakan habitat yang baik bagi perkembangbiakan ikan serta rumah bagi kepiting, burung laut, biawak, ular, bahkan buaya muara (Gambar 2). Di pesisir Brebes, fungsi biologi mangrove baru sebagai tempat perkembangbiakan ikan serta tempat bersinggah burung laut. Ke depan, kajian mengenai kesesuaian jenis dan keberagaman mangrove dalam membentuk ekosistem menyerupai alami perlu dilakukan lebih detail. Bagaimanapun, ekosistem mangrove yang berfungsi (mendekati) alami merupakan tujuan utama rehabilitasi mangrove.

Gambar 2. Mangrove memiliki fungsi ekologi sebagai pelindung pantai juga sebagai habitat fauna

Masyarakat dan pemerintah juga tengah merencanakan pengembangan arboretum dan kebun raya mangrove. Kawasan tersebut difungsikan untuk kawasan lindung, yang hanya dimanfaatkan sebagai laboratorium penelitian dan pengembangan. Dengan adanya arboretum dan kebun raya mangrove, diharapkan tingkat keberagaman dan fungsi mangrove pesisir Brebes semakin kuat.

Gambar 3. Diskusi dinamika pesisir dan restorasi mangrove Kabupaten Brebes

 

Secara sosial ekonomi, formasi mangrove yang melindungi perikanan tambak telah meningkatkan perekonomian masyarakat. Selain itu, ekowisata mangrove yang saat ini berkembang pesat di Kabupaten Brebes menarik tidak hanya bagi wisatawan, namun juga pemerintah, perusahaan, dan investor untuk membangun berbagai infrastruktur dan fasilitas wisata. Hal ini merupakan tantangan baru bagi masyarakat dan pemerintah agar dampak dari euforia udang windu di tahun 1980an tidak berulang oleh euforia (eko)wisata mangrove yang sedang sangat gencar dikembangkan di banyak pesisir Indonesia. Penetapan tujuan dan zonasi kawasan pesisir sangat penting untuk mencegah ekploitasi berlebihan di luar daya tampung dan daya dukung kawasan pesisir.

Fakultas Geografi menindaklanjuti penelitian mengenai pengelolaan kawasan pesisir Brebes dengan mengundang Mohamad Ali Mashuri, S.TP., M.Sc.,M.Si. untuk memberikan seminar pada tanggal 16 Agustus 2017. Topik mnegenai ketahanan masyarakat pesisir dan rehabilitasi mangrove akan dibahas lebih detail.

Mengutip satu kalimat dari Bapak Mashadi, penggiat mangrove Desa Kaliwlingi yang pada tahun 2015 lalu meraih penghargaan Kalpataru, bahwa dari pada mengumpat gelap, lebih baik kita (bersama-sama) menyalakan lilin. Mengeluh dan marah tidak akan pernah menyelesaikan masalah lingkungan pesisir. Ketidakberdayaan dimanfaatkan sebagai titik balik masyarakat bersama-sama meningkatkan kualitas tidak hanya lingkungan fisik namun juga sosial.

[Desy Wahyuning Tyas]

References

Faperi, Suyono, Supriharyono, Ign Boedi Hendrarto, and Ocky Karna Radjasa. 2015. “Management Strategies of Mangrove Degradation in Coastal Areas of Brebes Regency, Central java, Indonesia.” Journal of Coastal Zone Management 18 (2).

Lewis, R.R., and B. Streever. 2000. Restoration of mangrove habitat. Vicksburg: US Army Engineer Research and Development Center. www.wes.army.mil/el/wrp.

Whitten, Anthony J., Roehayat Emon Soeriaatmadja, and Suraya A. Afiff. 2000. The Ecology of Java and Bali. Singapore: Periplus.

 

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.