EKOWISATA EKOSISTEM MANGROVE DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN BREBES

Kabupaten Brebes merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah dan mempunyai wilayah pesisir. Masyarakat pesisir sering mengalami kerugian, karena adanya peristiwa erosi pantai (Coastal Erosion) yang mengakibatkan rusaknya kolam-kolam tambak. Upaya yang dilakukan masyarakat pesisir beserta pemerintah daerah Kabupaten Brebes untuk mengurangi meluasnya area yang tererosi, adalah dengan melakukan kegiatan penghijauan kembali wilayah pesisir berupa penanaman vegetasi mangrove. Selama kurun waktu lebih dari 15 tahun masyarakat pesisir dan pemerintah melakukan penghijauan, terutama jenis Rhizophora (bakau) dan Avicennia (api-api). Saat ini manfaat dari kegiatan tersebut telah dirasakan oleh masyarakat. Vegetasi mangrove hasil kegiatan penanaman tersebut telah mampu menghijaukan dan mempertahankan wilayah pesisir Kabupaten Brebes dari ancaman erosi pantai.

Vegetasi mangrove hasil penanaman masyarakat pesisir Kabupaten Brebes saat ini telah berkambang menjadi suatu ekosistem. Hal ini dibuktikan dengan adanya berbagai jenis biota khas ekosistem mangrove, seperti ikan Glodok, burung Kuntul, kepiting bakau dan lainnya. Ekosistem ini merupakan suatu area yang unik dan menarik untuk kegiatan pariwisata. Demi meningkatkan perekonomian masyarakat pada era ekonomi kreatif saat ini, suatu daerah harus mampu membangun produk unggulan yang bisa bersaing dengan daerah lainnya. Salah satu produk ekonomi kreatif yang dijadikan sebagai produk unggulan di wilayah pesisir Kabupaten Brebes adalah adanya ekowisata ekosistem mangrove.

Ekowisata merupakan suatu kegiatan wisata yang berbeda dengan wisata lainnya. Menurut Fandeli (2000), ekowisata adalah suatu bentuk kegiatan pariwisata yang berada pada area yang masih alami (natural area) dengan memasukkan unsur pendidikan dan wawasan lingkungan. Suatu area yang dikembangkan menjadi lokasi ekowisata harus memenuhi beberapa prinsip, yaitu konservasi, memberikan manfaat secara ekonomis bagi masyarakat sekitar, mengandung unsur pendidikan, memberikan kepuasan dan pengalaman bagi pengunjung, adanya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, serta menampung kearifan lokal (Peraturan Menteri Dalam Negeri No 33 Tahun 2009). Berdasarkan pengertian dan prinsip-prinsip tersebut maka suatu kegiatan wisata yang tidak memenuhi prinsip tersebut belum dapat dikatakan sebagai ekowisata.

Berdasarkan hasil dari kegiatan observasi dan survey lapangan dari Tim Peneliti Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada yang dilakukan pada tanggal 29 – 31 Juli 2007, dapat diketahui bahwa terdapat 3 desa yang saat ini telah memanfaatkan adanya ekosistem mangrove sebagai kawasan ekowisata. 3 desa tersebut yaitu: Desa Kaliwlingi, Desa Sawojajar, dan Desa Randusanga Kulon. Kegiatan tersebut tergolong kegiatan baru di wilayah pesisir Kabupaten Brebes. Meskipun demikian, para wisatawan yang berasal dari berbagai daerah mempunyai antusias yang tinggi terhadap objek wisata ini. Di antara 3 lokasi tersebut, kawasan ekowisata ekosistem mangrove di Desa Kaliwlingi merupakan kawasan yang pengembangannya paling intensif. Meskipun objek utama dari masing-masing lokasi sama, yaitu adanya hutan mangrove, namun pada masing-masing lokasi mempunyai ciri khas dan keunggulan yang ditawarkan bagi para wisatawan. Secara rinci akan dijelaskan sebagai berikut:

Ekowisata Mangrove Desa Kaliwlingi

Ekowisata ekosistem mangrove di Desa Kaliwlingi terletak di Dusun Pandansari, sehingga objek wisata ini lebih dikenal sebagai Ekowisata Mangrove Pandansari (Gambar 1). Objek wisata ini dikembangkan sejak tahun 2016 dan secara resmi dibuka sebagai kawasan wisata pada tahun 2017. Kawasan ini dikelola oleh kelompok masyarakat “Dewi Mangrove Sari” yang merupakan singkatan kata dari Desa Wisata Mangrove Pandansari. Kawasan ini telah dikelola dan ditata menjadi kawasan ekowisata oleh berbagai pihak, antara lain: masyarakat, berbagai dinas di lingkungan pemerintah daerah Kabupaten Brebes, Lembaga Swadaya Masyarakat (lokal, nasional, internasional), pihak swasta, dan lainnya.

Gambar 1. Peta wisata mangrove Pandansari, Desa Kaliwlingi

Objek utama yang ditawarkan pada lokasi ini adalah adanya hutan mangrove yang harus  diakses dengan menggunakan perahu. Sepanjang perjalanan menuju lokasi hutan mangrove, para wisatawan dapat melihat vegetasi mangrove yang berada di kanan-kiri aliran sungai. Vegetasi mangrove tersebut merupakan vegetasi yang ditanam pada pematang-pematang tambak, namun saat ini tambak tersebut telah rusak karena adanya erosi (abrasi). Setelah selama kurang lebih 10 menit menyusuri dengan menggunakan perahu, maka wisatawan dapat melakukan tracking mangrove di areal hutan mangrove yang luas (Gambar 2a). Wisatawan dapat melihat jenis-jenis vegetasi mangrove dan satwa khas ekosistem mangrove seperti ikan Glodog. Wisatawan pun dapat bersantai pada gazebo-gazebo yang telah disediakan oleh pengelola wisata sambil menikmati udara pantai dan pemandangan hutan mangrove (Gambar. 2b).

Gambar 2. Fasilitas Wisata Mangrove Pandansari, a. Boardwalk Tracking Mangrove, Gazebo, c. Peta Petunjuk Kawasan Wisata

 

Objek ekowisata yang terdapat pada kawasan ini tidak hanya tracking di area hutan mangrove, namun juga terdapat berbagai lokasi yang dapat dijadikan sebagai sarana edukasi para wisatawan, seperti: zona nelayan, zona pemancingan, zona sekolah alam, zona taman buah, dan lain-lain. Para wisatawan akan dimudahkan dalam mencari beberapa lokasi tersebut, karena telah disediakan peta petunjuk (Gambar. 2c). Pada lokasi-lokasi tersebut wisatawan tidak hanya sekedar melihat pemandangan alam, namun juga dapat melakukan berbagai aktivitas yang bersifat edukatif dan konservasi, seperti penanaman vegetasi mangrove dan identifikasi biota pada kawasan hutan mangrove.

Ekowisata Mangrove Desa Sawojajar

Ekowisata ekosistem mangrove di Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari di kelola oleh kelompok pelestari sumberdaya alam Wana Lestari. Lokasi wisata ini belum lama dikembangkan, sehingga fasilitas-fasilitas wisata belum lengkap seperti tempat wisata mangrove di Pandansari. Beberapa fasilitas yang saat ini telah disediakan oleh pengelola wisata seperti dermaga perahu, tempat pembelian tiket perahu, beberapa spot foto dan tempat tempat kuliner (Gambar. 3). Berbeda dengan lokasi wisata di mangrove Pandansari, objek wisata utama di kawasan mangrove Sawojajar adalah Pulau Cemara. Pulau ini merupakan sebuah gosong (Sandbar) yang memanjang hasil pengendapan gelombang laut. Beberapa tahun yang lalu masyarakat Sawojajar melakukan penanaman vegetasi cemara di pulau ini, dan saat ini vegetasi cemara telah tumbuh mencapai 2-3 meter. Hal inilah yang menyebabkan pulau ini diberi nama Pulau Cemara.

Untuk menuju Pulau Cemara, wisatawan harus menelusuri aliran sungai menggunakan perahu yang telah disediakan oleh pengelola wisata selama kurang lebih 15 menit. Selama menelusuri sungai wisatawan akan melihat berbagai jenis vegetasi mangrove, baik yang telah tumbuh besar maupun vegetasi mangrove berukuran kurang dari 2 meter hasil penanaman masyarakat. Jenis vegetasi mangrove yang dominan pada kawasan ini adalah jenis Rhizophora (Bakau) dan Avicennia (Api-api). Selain itu wisatawan juga dapat melihat berbagai jenis burung yang menjadikan vegetasi mangrove sebagai tempat tinggalnya. Di lokasi pulau cemara, wisatawan dapat berwisata dengan menikmati pemandangan alam dan beberapa spot foto yang telah disediakan oleh pengelola wisata di Desa Sawojajar

Gambar 3. Peta wisata mangrove Desa Sawojajar

Ekowisata Mangrove Desa Randusanga Kulon

Ekowisata ekosistem mangrove di Desa Randusanga Kulon berada di Kecamatan Brebes (Gambar 4). Objek wisata ini tidak jauh berbeda dengan objek wisata di Desa Kaliwlingi (Pandansari) dan Desa Sawojajar, yaitu: adanya kawasan hutan mangrove dan cara menuju lokasi hutan mangrove dengan menggunakan perahu. Beberapa hal yang membedakannya yaitu: penamaan pada masing-masing lokasi yang telah dikelola dan ditawarkan sebagai lokasi wisata, serta terdapat beberapa lokasi untuk memancing. Penamaan beberapa lokasi wisata di kawasan ini tergolong unik, seperti: Pulau Hantu, Kawasan Kekuasaan Siluman Buaya Putih, dan Pulau Tarzan. Sama seperti lokasi wisata di Desa Sawojajar, kawasan ini belum banyak dikelola sebagai lokasi wisata. Lokasi yang telah dikelola sebagai tempat wisata berada di Pulau Tarzan, seperti adanya dermaga perahu, tracking mangrove, dan beberapa gazebo.

Material yang digunakan untuk membuat tracking mangrove pun masih menggunakan bambu, sehingga dari segi keamanan cenderung kurang. Meskipun demikian, kawasan hutan mangrove yang berada di Desa Randusanga Kulon ini lebih luas dan mempunyai vegetasi mangrove yang lebih beranekaragam, jika dibandingkan dengan lokasi wisata Desa Kaliwlingi dan Sawojajar. Sehingga ketika kawasan ini dikelola dengan baik oleh masyarakat dan bantuan dari berbagai pihak terutama pemerintah daerah, maka kawasan ini dapat menjadi salah satu destinasi wisata yang mampu menarik banyak pengunjung.

Gambar 4. Peta wisata mangrove Desa Randusanga Kulon

[Taufik Walinono]

 

Referensi

Fandeli, Chafid. (2000). Pengusahaan Ekowisata. Pustaka Belajar: Yogyakarta.

Menteri Dalam Negeri. 2009. Peraturan Menteri Dalam Negeri  Nomor 33 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pengembangan Ekowisata di Daerah. Jakarta

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Comment (1)

  1. iskandar 6 months ago

    kami berminat utk bekerja sama dengan memanfaatkan hutan bakau dengan cara manambahkan biota kepiting bakau yang dapat dipanen setelah mencapai ukuran 1 kg+. Mohon bisa contact wa saya 0812 1672 1136 untuk dpat kita bicarakan lebih lanjut