DINAMIKA GARIS PANTAI MUARA SUNGAI PEMALI DAN SEKITAR

Wilayah pantai utara Pulau Jawa, atau biasa dikenal dengan nama Pantura (Pantai Utara), merupakan kawasan di bagian utara pulau jawa, yang berhadapan langsung dengan Laut Jawa. Salah satu penciri kawasan pesisir, menurut Pallewata (2010), kawasan tersebut sangat dinamis karena merupakan pertemuan antara komponen hidrosfer, litosfer, dan biosfer. Proses yang terjadi di kawasan tersebut sangat kompleks, baik secara alami maupun campur tangan manusia. Kabupaten Brebes termasuk dalam salah satu kabupaten paling barat di Jawa Tengah yang berlokasi di kawasan pesisir utara. Kabupaten Brebes dilalui oleh sungai Pemali, yang mengalir dari selatan (hulu Tuk Sirah) menuju ke utara, yaitu laut Jawa. Karakteristik Laut Jawa yang memiliki gelombang atau arus lautnya cenderung tidak terlalu besar disertai dengan bermuaranya material sedimen yang terbawa oleh aliran sungai Pemali menyebabkan terbentuknya delta. Delta terjadi akibat proses fluvial dari sungai dan proses marine dari laut (Marfai, 2016).

Delta secara umum diartikan sebagai daratan pada muara sungai yang terbentuk oleh endapan sedimen yang terbawa sungai menuju laut. Coleman dan Wells (1987) menyebutkan bahwa delta dapat terbentuk apabila memenuhi syarat, antara lain: ada sungai yang menuju ke laut; lautnya dangkal; gelombang atau arus laut kecil; tidak ada gerakan tektonik yang menyebabkan penurunan dasar laut di tempat muara sungai tersebut; arus pasang surut tidak kuat; material yang diendapkan di laut, besar dan konstan dari waktu ke waktu.  Delta menjadi salah satu bentukan alam yang menunjukkan kedinamisan daerah pesisir. Bentuk delta dapat berubah karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya debit sungai, material sedimen yang dibawa oleh sungai, arus laut, dan erosi.

Pesisir Brebes tidak terkecuali juga sangat dinamis, dimana penggunaan lahan menjadi sangat kompleks terkait dengan dinamika perubahan pesisir. Pada awal tahun 1980-an, masyarakat pesisir Brebes memanfaatkan lahannya untuk budidaya perikanan, yakni tambak udang windu. Hampir di sepanjang pesisir Brebes, lahannya digunakan untuk kolam tambak udang. Pada Gambar 1., disajikan foto udara wilayah pesisir Brebes pada tahun 1984. Dinamika garis pantai yang terjadi di Brebes berupa akresi (penambahan daratan) dan erosi (pengikisan daratan).

Gambar 1. Foto Udara Pesisir Brebes tahun 1984

AKRESI

Terjadinya proses akresi di pesisir Brebes berupa terbentuknya delta di muara Sungai Pemali dan anak sungainya. Berdasarkan pengamatan melalui foto udara mulai dari tahun 1980 hingga 2017 (Gambar 2), delta Pemali mengalami perkembangan, khususnya ke arah utara dan timur laut. Dimulai dari terbentuknya endapan sedimen pada muara Sungai Polang memanjang ke utara, kemudian pada kurun waktu tahun 2005-2010 muara Sungai Pemali terbentuk juga endapan sedimen memanjang ke arah timur laut. Luasan daratan hasil endapan sedimen di bagian kedua sisi sungai di muara semakin melebar karena suplai sedimen dari Sungai Pemali serta adanya tanaaman mangrove yang menahan material tertransport tersebut. Berdasarkan dari bentuk endapannya, Delta Pemali termasuk dalam delta yang berbentuk cuspate, atau menyerupai huruf ‘v’. Bentuk delta tersebut mengindikasikan bahwa proses marine (arus/gelombang laut) lebih dominan dibandingkan proses fluvial (aliran sungai). Daratan yang terbentuk oleh endapan sedimen di muara Sungai Pemali dimanfaatkan oleh masyarakat untuk budidaya perikanan tambak. Pembuatan kolam-kolam untuk tambak udang cukup intensif dilakukan tahun 1980-an. Selama kurang lebih 10 tahun, budidaya tambak udang intensif dilakukan masyarakat, hingga kemudian dilaporkan erosi mulai terjadi di pesisir Brebes. Antisipasi erosi tersebut, masyarakat melakukan rehabilitasi lahan dengan menanam mangrove di sepanjang kawasan pesisir Brebes. Dengan adanya mangrove, material yang terbawa oleh sungai dapat terendapkan di muara hingga terbentuk daratan. Dilihat dari foto udara secara temporal, daratan di muara Sungai Polang semakin meluas. Begitu pula di muara Sungai Pemali di sebelah timur laut, endapan sedimen membentuk daratan yang luas dalam kurun waktu kurang lebih 6 tahun. Tanaman mangrove terlihat tumbuh merata di sepanjang garis pantai di delta Pemali tersebut, dimana mangrove turut memberikan andil dalam pengedapan sedimen.

Gambar 2. Terjadinya proses akresi di muara Sungai Pemali

EROSI

Pesisir Brebes selain mengalami proses pengendapan sedimen hingga terbentuk delta, juga mengalami proses erosi, atau berkurangnya /terkikisnya daratan karena pengaruh kegiatan gelombang/arus laut. Perubahan garis pantai akibat erosi dapat dilihat di kawasan Desa Kaliwlingi Kecamatan Brebes hingga Sawojajar Kecamatan Wanasari (barat delta Pemali) dan Desa Randusanga Kecamatan Brebes (timur delta Pemali). Berdasarkan pengamatan foto udara temporal dari tahun 1990 hingga 2016 (Gambar 3) terjadi dinamika perubahan garis pantai yang dipengaruhi oleh faktor alam dan faktor campur tangan manusia. Pada kedua area yang ditunjukkan dalam lingkaran-lingkaran merah, nampak garis pantai semakin mundur secara terus-menerus dan luas daratannya semakin berkurang. Pada tahun pengamatan melalui foto udara, yakni pada akhir tahun 1980-an, sebagaimana disebutkan sebelumnya, di kawasan pesisir dimanfaatkan untuk budidaya tambak udang. Pemanfaatan lahan secara intensif dengan tanpa penyeimbang lahan secara ekologi adalah kemungkinan yang menyebabkan terjadinya pengikisan daratan di kawasan pesisir Brebes. Akan tetapi masih diperlukan kajian lebih lanjut untuk memastikan terjadinya sebab akibat tersebut. Pada tahun 2000-an masyarakat setempat mulai melakukan rehabilitasi lahan dengan cara menanam mangrove. Pengelolaan mangrove yang baik di kawasan tersebut membuahkan hasil, yakni daratan hasil endapan sedimen mulai terbentuk. Pada tahun 2016 terlihat di garis pantai dan beberapa titik kawasan pesisir telah terdapat ekosistem mangrove yang padat. Pembangunan infrastruktur ramah lingkungan juga dilakukan di pesisir Brebes untuk merehabilitas lahan dan mitigasi erosi, diantaranya adalah breakwater (pemecah gelombang) dari batu dan teknologi geotube/geotekstil.

Gambar 3. Terjadinya erosi di sekitar muara Sungai Pemali

[Widiyana Riasasi]

 

REFERENSI

Coleman, JM., Wells, JT. 1987. Wetland Loss and the Subdelta Life Cycle. Elsevier, 25, 1, 111-125.

Marfai, M. , Tyas, D. , Nugraha, I. , Fitriatul’Ulya, A. and Riasasi, W. (2016) The Morphodynamics of Wulan Delta and Its Impacts on the Coastal Community in Wedung Subdistrict, Demak Regency, Indonesia. Journal of Environmental Protection, 7, 60-71. doi: 10.4236/jep.2016.71006. http://www.scirp.org/Journal/PaperInformation.aspx?PaperID=62649

Pallewatta, N. 2010. Coastal Zones and Climate Change. In: Michel, D.  and Pandya, A., Eds., Coastal Zones and Climate Change, The Henry L. Stimson Center, Washington DC, 3-16.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.