Sebelas tahun semburan Lumpur Sidoarjo – Lumpur apa itu?

Tepat 11 tahun yang lalu, tanggal 29 Mei 2006, masyarakat Sidoarjo dikejutkan dengan semburan lumpur di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo (Gambar 1). Lumpur tersebut terus mengalir sampai saat ini dengan debit rata-rata antara 104 sampai 105 m3/hari  (Satyana & Asnidar, 2008) dan telah menggenangi area seluas 650 ha (Jejeli, 2016). Sebanyak 19 desa pada Kecamatan Porong, Tanggulangin, dan Jabon tergenang lumpur, menyebabkan 11241 bangunan terkubur dan 39700 jiwa direlokasi, dengan kerugian ekonomi lebih dari 2,7 milyar dolar (BPLS, Mazzini et al., 2007, McMicheael, 2009).

Gambar 1. Lumpur Sidoarjo (Lusi) menggenangi 19 desa pada 3 kecamatan di Kabupaten Sidoarjo (Tingay, 2016)

 

Penyebab utama semburan lumpur Sidoarjo masih menjadi perdebatan para ahli geologi dunia. Beberapa kelompok ahli (Davies dkk.) berpendapat bahwa semburan lumpur disebabkan oleh aktivitas pengeboran gas oleh Lapindo Brantas Inc. Kesalahan teknik eksplorasi gas sumur Banjar Panji-1 yang terletak 150 meter dari pusat semburan dianggap sebagai penyebab utama. Beberapa ahli lain (Mazzini dkk.) menyatakan bahwa semburan lumpur sebagai bencana alam yang dipengaruhi oleh gempabumi berkekuatan 6,2 skala ritcher yang terjadi 2 hari sebelumnya di Bantul.

Pembahasan mengenai lumpur Sidoarjo dapat dianalisis secara sangat luas dari berbagai sudut pandang kebencanaan, alam, sosial, politik, maupun ekonomi. Hal ini dikarenakan kejadian ini berdampak pada seluruh dimensi lingkungan. Dalam artikel ini, penulis akan menyoroti kondisi alam yang menyebabkan kerawanan semburan lumpur di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya.

Lumpur Sidoarjo atau yang lebih dikenal dengan Lusi, merupakan salah satu bentuk hasil proses struktural gunungapi lumpur (mud volcano). Mud volcano adalah bentukan ekstrusif erupsi lumpur dengan kandungan air dan gas metan yang tinggi (Satyana & Asnidar, 2008). Sebelum mengalami erupsi, mud volcano berupa mud diapir, yaitu intrusi dari lumpur atau batuan serpih yang mengganggu lapisan yang lebih rapat di atasnya akibat daya apung dan tekanan turunannya. Tahapan pembentukan mud diapir dan mud volcano ditunjukkan pada Gambar 2. Lumpur berasal dari sedimen batuan serpih muda, tebal, dan bersifat plastis yang terdeposisi secara cepat pada zona depresi. Milkov (2000) menjelaskan bahwa mud diapirs dan mud volcano terbentuk pada cekungan elional yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya

  1. Tingginya aktivitas tektonik (tekanan struktur geologi dan kegempaan)
  2. Sedimen muda dan tebal yang terdeposisi secara cepat,
  3. Sedimen memiliki kandungan air yang relatif tinggi,
  4. Adanya lapisan plastis di bawah permukaan,
  5. Adanya tekanan fluida dan sedimen yang tidak terkompaksi sempurna,
  6. Tingginya potensi gas dan hidrokarbon,
  7. Tingginya gradien geotermal

Gambar 2. Fase pembentukan mud diapir dan volcano, fase 1 berupa embrio, fase 2 berupa diapir, fase 3 berupa erupsi mud volcano, dan fase keempat adalah post-eruptive/collapse (Waluyo, 2007 dalam Satyana & Asnidar, 2008)

 

Sidoarjo terletak pada zona depresi Kendeng (Gambar 3), yang merupakan kelanjutan dari zona Bogor-Serayu Utara, yang mengalami pengangkatan dan deformasi sejak Plio-Pleistosen membentuk antiklinorium (Satyana & Asnidar, 2008). Material pada zona ini berasal dari material laut dangkal, material vulkanis dari jajaran gunungapi kwarter dan batuan sedimen kapur dari pegunungan selatan. Zona depresi Kendeng memenuhi seluruh faktor terbentuknya mud diapir dan volcano dengan basin elional paling baik di Indonesia  (Satyana & Asnidar, 2008). Zona ini terisi oleh sedimen Meiocene sampai Pleistocene yang cepat dan belum terkompaksi sempurna. Karena lokasinya pada batas lempeng konvergen, deposisi tersebut tertekan dan terangkat sejak masa Plio-Pleistocene dan dipengaruhi oleh gradien geotermal yang tinggi oleh busur magmatik di sekitarnya. Terdapat sesar aktif di sekitar zona depresi sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 4. Tidak hanya di Sidoarjo, terdapat beberapa mud vocano dan mud diapir di sepanjang zona depresi Pulau Jawa (Gambar 4). Beberapa diantaranya adalah Ciuyah di Kuningan Jawa Barat, Serayu Utara, kompleks Bledug Kuwu, Sangiran, Sidoarjo, serta mud diapir dan volcano lain di sekitar Zona Kendeng bagian Timur.

Gambar 3. Fisiografi Pulau Jawa Bagian Timur Menurut Van Bemmelen 1949 (ESDM, 2013)

 

Gambar 4. Struktur geologi di Pulau Jawa  (Natawijaya, 2007)

 

Gambar 5. Distribusi mud diapir dan volcano di Pulau Jawa  (Satyana & Asnidar, 2008).

 

Lusi merupakan salah satu dari beberapa mud diapir dan volcano yang terbentuk di Zona Kendeng bagian timur. Di sekitar Lusi, terdapat beberapa mud diapir dan volcano baik yang masih aktif, dorman, ataupun yang sudah tidak aktif/extinct), diantaranya adalah Porong, Kalanganyar, Semolowaru, Pulungan, dan Sedati di Sidoarjo, Gununganyar di sekitar Surabaya, Socah di Bangkalan,dan Wringin Anom di perbatasan antara Gresik dan Mojokerto  (Satyana & Asnidar, 2008). Berdasarkan sejarah dan data geologi, terdapat mud volcano yang erupsi pada zaman sejarah Kerajaan Jenggala dan Majapahit (abad ke 12-15) di zona yang dulu disebut Tunggorono-Jombatan-Segunung-Canggu-Bangsal di daerah Jombang.

Terlepas dari penyebab utama erupsi Lusi, analisa kondisi geologi dan geomorfologi dalam perencanaan pengelolaan kawasan atau pembangunan wilayah harus dilakukan. Lokasi pengembangan, infrastruktur yang dikembangkan, teknik dan material yang digunakan, sampai pemantauan serta evaluasi harus mempertimbangkan aspek geologi lingkungan. Ini mutlak dilakukan mengingat Indonesia yang terletak pada wilayah dengan kondisi geologi yang dinamis.

 

Bemmelen, R. W. (1949). The Geology of Indonesia Vol. IA . The Haque: Gov. Printing Office.

Jejeli, R. (2015, Mei 28). Kolam Penampungan Lumpur Lapindo. Diambil kembali dari Detiknews: http://news.detik.com/jawatimur/2927776/kolam-penampungan-lumpur-lapindo

Kartanegara, Uneputty, & Asikin. (1987). Tatanan Stratigrafi dan Posisi Tektonik Cekungan Jawa Tengah Utara Selama Zaman Tersier. Proceeding Indonesia Association of Geologist 16th Annual Convention. Bandung: IAGI.

Milkov. (2000). Worldwide distribution of submarine mud volcanoes and associated gas hydrates. Marine Geology, 167, 29-42.

Natawijaya, D. (2007). Active Tectonics of Java: Relationships to Mud Volcanoes. International Symposium on LUSI. Jakarta: BPPT-IAGI-LIPI.

Satyana, A. H., & Asnidar. (2008). Mud Diapirs and Mud Volcanoes in Depressions of Java to Madura: Origins, Natures, and Implications to Petroleum System. APA08-G-139, 1-34.

[Desy Wahyuning Tyas]

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*