Shallow Groundwater (Airtanah Dangkal)

Pendefinisian kata airtanah dangkal selalu menjadi perdebatan. Mengapa definisinya begitu penting? Hal ini karena pada banyak aturan ekstraksi airtanah seringkali pengambilan oleh masyarakat dan industri dibatasi oleh istilah airtanah dangkal dan airtanah dalam. Shallow groundwater seringkali digunakan untuk menggantikan istilah airtanah bebas (lebih tepat airtanah tidak tertekan) di Indonesia, meskipun sebenarnya sangat tidak tepat. Sudut pandang dalam pendefinisian airtanah bebas adalah bahwa airtanah tidak dibatasi oleh lapisan impermeable (kedap air), sedangkan shallow groundwater adalah pengertian yang didasarkan pada kedalaman muka airtanah, tidak peduli ada atau tidaknya lapisan impermeable (kedap air).

Shallow groundwater di definisikan sebagai airtanah yang memiliki muka airtanah (atau keberadaannya) pada kedalaman kurang dari 30 meter. Namun demikian, beberapa peneliti menyebutkan bahwa yang dimaksud Shallow Groundwater adalah airtanah yang kedalamannya sangat dangkal, sehingga dapat memberikan kontribusi/pengaruh terhadap keberadaan lengas tanah (soil moisture storage). Hal ini menyebabkan pada beberapa material berbeda, semestinya kedalaman yang digunakan sebagai batas juga berbeda, misalnya 10 mm untuk gravel, 1,5 m untuk silt, dan beberapa meter untuk clay.

Shallow groundwater di Yogyakarta misalnya ditentukan berdasarkan penelitian McDonald and Partners (1979-1984). Airtanah dangkal didefinisikan sebagai airtanah dengan kedalaman kurang dari 40 meter. Batasan ini didasarkan pada penelitian di atas, bahwa Cekungan Airtanah (CAT) Yogyakarta-Sleman (wilayahnya mulai dari Seleman, Kodya Yogyakarta dan Bantul) tersusun atas 2 lapisan formasi sebagai akuifer yaitu Formasi Yogyakarta dan Formasi Sleman. Kedalaman Formasi Yogyakarta di bagian atas rata-rata adalah 40 meter, sehingga batas airtanah dangkal di DIY adalah 40 meter. Bagi saya, airtanah dangkal adalah soal teknis yang memudahkan perkerjaan dan penegakan aturan dilapangan saja, bukan soal penyelamatan airtanah secara ilmiah.

[Ahmad Cahyadi]

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*