Planet Bumi yang Unik dalam Tragedi Umum

Bumi adalah planet yang unik di antara planet-planet lain di tata surya kita. Ya, unik karena Bumi memiliki sebuah lingkungan di mana kehidupan mampu berkembang, mulai dari bakteri-sel tunggal, tanaman, hewan dan manusia seperti kita. Setidaknya terdapat dua faktor penting yang menyebabkan perkembangan dari biosfer menjadi beragam seperti yang kita lihat sekarang ini. Pertama adalah bahwa jarak Bumi dari Matahari menghasilkan suhu permukaan dalam kisaran di mana air dapat eksis di wujud cair, padat dan gas. Faktor kedua adalah bahwa planet kita mampu mempertahankan atmosfer, yang pada gilirannya memungkinkan air untuk bergerak sebagai zat cair dan gas secara siklik. Masa di mana manusia mulai menempati biosfer sesungguhnya relatif sebentar dibandingkan dengan perkembangan Bumi yang diperkirakan mulai 4,5 milyar tahun yang lalu. Namun demikian, pertumbuhan penduduk yang cepat dikombinasikan dengan Revolusi Industri telah mengakibatkan manusia memiliki dampak yang luar biasa pada lingkungan permukaan Bumi.

Salah satu alasan utama manusia telah mampu berkembang adalah kemampuan manusia untuk memahami dan memodifikasi lingkungan di mana manusia hidup. Untuk bertahan hidup mereka harus sangat menyadari lingkungan dalam rangka untuk menemukan makanan, air, dan menemukan tempat tinggal yang jauh dari bahaya. Hal ini memaksa beberapa orang untuk melakukan perjalanan dengan migrasi, yang pada gilirannya mengikuti perubahan musim dalam kaitannya dengan makanan dan air. Akhirnya orang belajar untuk membersihkan lahan dan menanam tanaman di pemukiman yang terorganisir. Dari perkembangan ini, manusia menjadi terampil mengenali bagian-bagian dari bentanglahan dengan tanah yang paling produktif. Tanah terbaik, bagaimanapun, umumnya ditemukan di daerah dataran rendah di sepanjang sungai dan kadang tergenang secara berkala oleh banjir. Untuk mengurangi bahaya banjir, orang belajar untuk mencari lahan pertanian di tanah yang lebih tinggi dan untuk menempatkan rumah mereka lebih tinggi, sehingga dapat terhindar dari banjir, meskipun tetap tidak bisa menghindari banjir yang paling ekstrim. Selain mengurangi risiko banjir dan bencana alam lainnya, orang belajar bagaimana untuk mengambil keuntungan dari mineral dan sumberdaya energi yang ada di Bumi. Kemampuan untuk menggunakan sumber daya ini membawa manusia kepada revolusi industri dan masyarakat konsumtif modern seperti saat ini.

Meskipun manusia telah mendapatkan banyak manfaat dengan memodifikasi lingkungan dan memanfaatkan sumberdaya di Bumi, tindakan ini telah mengakibatkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Sebagai contoh, untuk bercocok tanam dan membangun kota dilakukan penebangan hutan dan perubahan lahan pada padang rumput yang pernah membentuk ekosistem yang unik di Bumi. Hal ini mengakibatkan penurunan kemampuan tanah untuk menyerap air, meningkatkan frekuensi dan tingkat keparahan banjir serta menurunnya kualitas dan kuantitas pasokan air bagi manusia. Selain itu, penggunaan mineral dan sumberdaya energi oleh masyarakat modern menciptakan limbah dengan produk yang dapat meracuni sungai dan mengotori udara yang kita hirup. Dalam beberapa tahun terakhir para ilmuwan telah menunjukkan bahwa penggunaan produk bahan bakar fosil telah mengubah sistem iklim planet dan berkontribusi terhadap masalah pemanasan global. Hal ini telah menjadi cukup jelas bahwa umat manusia adalah bagian integral dari sistem Bumi dan, yang paling penting bahwa tindakan kita sangat mempengaruhi lingkungan di mana kita hidup.

Hubungan antara kerusakan lingkungan dan aktivitas manusia mungkin bagi para ilmuwan akan nampak sangat jelas lagi gamblang, namun kadang tidak selalu begitu jelas untuk sebagian besar penduduk penghuni Bumi. Sebuah konsep mapan terhadap degradasi lingkungan dikenal sebagai “tragedi umum”, di mana kepentingan individu atau segelintir individu menghasilkan kehancuran sumber daya umum atau sumberdaya milik bersama. Sebuah sumberdaya umum mencakup hal-hal seperti sungai yang digunakan untuk suplai air, kayu di hutan, padang rumput untuk hewan merumput, dan ikan di laut. Coba kita lihat sebuah desa nelayan kecil yang dengan mudah mengambil ikan di perairan laut dekat mereka tinggal. Ikan seakan seanantiasa ada setiap hari. Pengambilan yang sedikit dan tidak melebihi produksinya menyebabkan pekerjaan nelayan terus menjanjikan dan mencukupi kebutuhan hidup. Namun, jika desa tumbuh terlalu besar, permintaan ikan terus meningkat kemudian direspon dengan mengambil ikan sebanyak-banyaknya, maka hal ini akan membuat sumberdaya perikanan tidak berkelanjutan. Ikan menjadi langka, persaingan antara individu nelayan untuk mendapat ikan lebih tinggi, dan terbentuklah lingkaran setan. Kepentingan nelayan ini menciptakan sebuah spiral ke bawah di mana semua anggota masyarakat pada akhirnya menderita karena sektor perikanan habis, runtuh dan tidak dapat dipulihkan kembali, di sisi yang lain mereka harus terus hidup dan bekerja untuk membayar hutang sebagai biaya melaut yang lebih jauh. Mereka berhutang untuk terus melaut, tetapi hasilnya kembali habis untuk membayar hutang. Begitulang lingkaran setan yang terus bergulir entah kapan selasai.

Fenomena lain yang dapat berkontribusi terhadap degradasi lingkungan adalah ketika manusia dalam masyarakat modern menjadi terputus dari lingkungan alamnya. Contohnya adalah masyarakat perkotaan, di mana banyak orang sekarang tinggal dan bekerja di dalam ruangan yang cuacanya seakan berada ditangan pemilik ruangan dan mendapatkan makanan mereka dari toko tanpa harus menanam. Hal ini telah membantu orang kehilangan rasa keterhubungan dengan alam, meskipun pada kenyataannya mereka tetap bergantung pada lingkungan Bumi seperti nenek moyangnya dulu. Seperti pada “tragedi umum”, kurangnya kesadaran lingkungan dapat menyebabkan masalah serius dan kesulitan yang semakin rumit serta siklik. Oleh karenanya menjaga keterhubungan dengan lingkungan itu sangat penting. Kawan, sudahkah kau menjenguknya setiap hari?

[Ahmad Cahyadi]

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*