Risiko Lingkungan dan Respon Manusia Terhadapnya

Disarikan dari James S. Reichard. 2011.Environmental Geology.

Begitu banyak peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia, baik yang memberikan banyak manfaat dan yang memberikan dampak negatif. Salah satu fenomena yang memberikan dampak negatif bagi manusia adalah kejadian bencana. Seringkali, dengan mengetahui suatu wilayah pernah mengalami bencana, maka wilayah tersebut akan dimasukkan sebagai kawasan rawan bencana, kemudian tidak dimanfaatkan sama sekali. Pemahaman ini tidak sepenuhnya salah, namun mestinya perlu dipertimbangkan kembali risiko lingkungan yang ada di wilayah tersebut. Risiko lingkungan didefinisikan sebagai sebuah kesempatan/peluang suatu proses alam atau suatu kejadian alam akan mengahasilkan dampak negatif kepada individu atau masyarakat secara keseluruhan. Bahasanan terkait dengan risiko lingkungan biasanya di pisahkan menjadi dua bahasan, yaitu peluang atau probabilitas kejadian dan dampak yang mungkin ditimbulkan. Oleh karenanya risiko lingkungan biasanya dirumuskan sebagai berikut:

Risiko Lingkungan = peluang kejadian suatu peristiwa x kemungkinan dampak yang terjadi

 

Reichard dalam bukunya Environmental Geology (2011) memberikan contoh yang baik untuk memahami risiko lingkungan. Beliau mencontohkan risiko lingkungan  dengan kasus yang ditimbulkan oleh asteroid yang menghantam Bumi. Meskipun asteroid seukuran kepalan tangan kecil secara rutin jatuh ke Bumi (yaitu, artinya probabilitas kejadiannya tinggi), namun risiko yang sebenarnya adalah rendah karena potensi kerusakan (akibatnya/ dampak) yang ditimbulkan sangat kecil. Namun sebaliknya, meskipun konsekuensi dari dampak yang ditimbulkan oleh asteroid dengan diameter beberapa mil adalah bencana yang bersifat global, risikonya masih dapat dianggap rendah karena kemungkinan kejadian tersebut dalam waktu dekat sangat rendah. Dua kasus di atas kiranya cukup menjelaskan bahwa perbedaan probabilitas dan juga dampak akan menunjukkan seberapa besar risiko lingkungan yang akan terjadi. Oleh karena itu, ketika mengevaluasi risiko lingkungan, seharusnya kita tidak hanya fokus pada beratnya konsekuensi yang akan terjadi tanpa mempertimbangkan kemungkinan terjadinya peristiwa itu sendiri.

Pemahaman akan risiko bencana di atas membawa kita pada konsep manajemen risiko yang mengharuskan pengambilan langkah-langkah untuk mengurangi risiko tertentu. Sebelum tindakan apapun dapat diambil, tentunya diperlukan upaya mengidentifikasi ancaman itu sendiri. Identifikasi ancaman mensyaratkan digunakannya metode ilmiah untuk mengidentifikasi dan memahami aspek-aspek yang menimbulkan risiko bagi masyarakat. Apabila ancaman telah diidentifikasi, risiko dapat diturunkan dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan rekayasa untuk: (a) mengurangi kemungkinan suatu peristiwa yang terjadi; dan (b) meminimalkan dampak atau konsekuensi yang mungkin terjadi. Contoh kasus dalam hal ini adalah bahwa untuk menurunkan risiko banjir, maka kemungkinan banjir dapat dikurangi melalui pembangunan bendungan dan tanggul, dan konsekuensi dapat diminimalkan melalui zonasi yang membatasi pengembangan dataran banjir.

Salah satu faktor kunci yang mempengaruhi bagaimana orang menanggapi risiko lingkungan adalah sifat proses geologi dan skala waktu dari proses geologi yang dihadapi di mana seseorang hidup. Proses alam dapat diklasifikasikan menjadi incremental process dan sporadic process. Incremental process adalah proses yang menghasilkan perubahan kecil dalam fungsi waktu, seperti tenaga struktural yang menyebabkan pengangkatan suatu wilayah dan erosi batuan yang membentuk kenampakkan seperti Grand Canyon di Amerika. Meskipun tenaga yang menyebabkan pengangkatan dan erosi bekerja terus-menerus, tingkat perubahan yang ditimbulkan sangat kecil, sehingga dampaknya pada kehidupan sehari-hari orang seringkali dianggap tidak penting. Di sisi lain, hilangnya lapisan tanah atas karena meningkatnya intensitas erosi adalah masalah lingkungan yang serius karena mengurangi kemampuan masyarakat untuk menghasilkan bahan makanan. Dalam hal ini tingkat erosi tanah di daerah pertanian  cukup besar untuk mengakibatkan hilangnya tanah secara signifikan dalam hitungan beberapa dekade. Oleh karena itu, setiap kali laju incremental process menjadi tinggi, ada potensi terjadinya perubahan yang tidak diinginkan dalam rentang kehidupan manusia.

Sebaliknya, sporadic process adalah proses yang sifatnya agak acak sebagai peristiwa diskrit. Contohnya banjir, letusan gunungapi, gempabumi, dan tanah longsor. Sporadic process sering disebut sebagai bahaya ketika mereka menghasilkan perubahan dramatis dan tiba-tiba yang memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan bagi manusia. Kejadian dengan konsekuensi sangat parah biasanya disebut bencana atau katastropik. Meskipun sporadic process terjadi secara acak, mereka umumnya memiliki periode ulang dalam interval agak teratur, dengan frekuensi yang tergantung pada proses itu sendiri. Misalnya, banjir terjadi dengan frekuensi yang lebih besar daripada letusan gunungapi. Hal yang juga penting adalah fakta bahwa peristiwa dengan intensitas atau magnitudo kecil lebih umum terjadi daripada yang besar. Contohnya banjir dengan intensitas kecil terjadi lebih sering daripada banjir yang besar.

Fakta bahwa proses geologi berjalan dengan cara berbeda-beda dalam ruang dan waktu penting karena hal ini mempengaruhi bagaimana manusia menanggapi risiko lingkungan. Untuk menggambarkan hal ini kita dapat melihat pada sifat sporadis dari banjir besar dan tsunami. Perhatikan bahwa banjir terjadi cukup sering, sehingga seorang individu mungkin mengalami beberapa banjir besar dalam seumur hidupnya. Risiko banjir yang relatif tinggi membantu menjelaskan mengapa orang yang tinggal di sepanjang sungai secara historis mengurangi risiko lingkungan yang berdampak pada mereka dengan membangun pemukiman di tanah tertinggi. Di sisi lain, tsunami besar  terjadi lebih jarang, yang berarti beberapa generasi mungkin melewati waktu di mana peristiwa tsunami besar tidak terjadi. Manusia yang tidak memiliki memori dari tsunami sebelumnya menghuni wilayah pesisir yang rentan. Dengan demikian, beberapa orang mungkin sama sekali tidak menyadari bahaya yang ada, sedangkan orang lain menyadari tapi merasa bahwa manfaat dari hidup di tanah datar di p[inggir pantai lebih besar manfaatnya jika dibandingkan risiko yang ada. Sayangnya, manusia juga sering menempatkan diri mereka dalam bahaya karena mereka tidak mengetahui adanya bahaya atau hanya karena mereka memutuskan untuk mau menerima risiko. Sebuah contoh tragis fenomena ini adalah tsunami besar yang melanda desa-desa pesisir di sekitar Samudera Hindia pada tahun 2004. Hampir 250.000 orang kehilangan nyawa mereka ketika mereka tiba-tiba menemukan diri mereka dalam bahaya tanpa sarana untuk melarikan diri dan fasilitas menghadapinya.

Akhirnya, masalah lingkungan yang terkait dengan incremental process sangat menantang bagi masyarakat karena faktanya masyarakat menjadi sulit untuk mengenali. Ambil contoh proses deforestasi, di mana jumlah hutan hilang setiap tahun melalui penebangan nampak begitu kecil. Hal ini karena banyak orang tidak melihat perubahan secara keseluruhan berlangsung di banyak tempat dengan sebaran spasial yang tidak saling berdekatan. Karena hutan terlihat hampir sama seperti yang terjadi tahun sebelumnya di tempat mereka berada, orang cenderung percaya bahwa hal-hal yang “normal” sedang terjadi. Pada saat hutan hilang dan erosi menghilangkan humus menuju ke saluran sungai terdekat, mungkin tidak ada satupun memori tersisa dari lingkungan yang pernah ada. Bahkan lebih sulit untuk mengenali proses lambat yang bertahap dan bervariasi secara alami dari tahun ke tahun, seperti contoh perubahan iklim. Seperti ayunan ke atas dan ke bawah dari kondisi alam nampak pada data suhu yang naik turun dari tahun ke tahun, seakan dengan mudah menutupi trend perubahan suhu yang sebenarnya mengalami peningkatan. Hal itu menyebabkan banyak manusia lambat mengakui bahwa bumi kita semakin memanas.

[Ahmad Cahyadi]

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.